Arsip untuk sajak

Lelah Hati

Posted in History, IBSN, Introspeksi diri, KBM, Kicauku, Malam, renungan with tags on 2 Januari 2010 by Hariez™

Setetes harap dalam kemelut hari ini, membuatku membelalakkan mata betapa hari ini hanya penuh oleh guratan ketidak pastian langkah ini..

Gerimis pun mengiringi keredupan mentari pagi yang seolah malu menampakan sinar kehangatan pagi..

Ada apa hari ini ?? Baca lebih lanjut

Iklan

Pernah

Posted in Duka, History, IBSN, KBM, Kicauku, Malam with tags on 18 Desember 2009 by Hariez™

Pernah kutangkap matamu membinar tatkala saksikan bibir ini melontarkan segudang sumpah demi terikatnya hasrat yang masih semu..

Pernah suatu ketika kusaksikan matamu basah oleh butiran mutiara bening dari kelopak matamu..menatap kesombongan hati ini yang seolah mampu meruntuhkan tembok tradisi..

Dan pernah kusaksikan tawa bahagiamu saat kuucap Ijab Qabul dihadapan seluruh mata yang memandang, betapa nekatnya mahluk kecil ini membuaimu dalam alunan kidung tanda tanya..

Sayang…kini harus kusaksikan mata indah mu terpejam dalam alunan bait-bait Do’a pengantar yang akan mengiringimu di pembaringan terakhir..

-Salam-

Goresan Sang Langit Jiwa

Posted in Duka, Malam, renungan, Special Edition with tags on 6 November 2009 by Hariez™

Dua malam yang lalu, aku sempat chat bersama seorang seniman kata yang senior di dunia Blog. Ku kenal Ia dengan sebutan  nama LangitJiwa, dari beliau lah saya banyak belajar merangkai kata-kata, yang selama ini mencoba dengan gaya ku sendiri. Dan Bang Andra pulalah orang dari dunia maya pertama yang mengomentari tulisan di blog ku (selain 2 orang teman dekatku). Dan dengan izinnya pula dua malam yang lalu, aku membuat post salah satu hasil goresannya.

Tiba-Tiba Aku Membunuh Diriku sendiri

membaca matamu malam itu seperti melihat pusar gelombang yang maha dahsyat.

mataku terhempas jauh dari tepian matamu. dan tubuhku basah oleh derai airmata isakmu menghancurkan dinding jiwa pecah! kepinganya menancap mata bulan.

yah…aku laki-laki yang belum baik dan benar tak apa kau sebut aku laki-laki pengecut karena mencintaimu adalah sebuah anugerah. lantas? apa harus di selimuti kepura-puraan? merawat cinta yang sedang tumbuh untuk berbuah.

bila tiba waktunya kita berpisah, aku hanya inginkan darimu sesering mungkinlah kau berdoa untukku, di gundukan tanah merah di mana dapat kau lihat keping-keping jiwa yang berhamburan bersama 7 rupa bunga yang luluh lantak bersama

kata-kata! yah..kata-kata yang belum sempat menjadi sajak terakhir untukmu..

malam semakin sekarat desau angin menampar semesta seorang penyair terkulai dengan matapena menancap di dada kiri darahnya membentuk segurat kalimat  “Ruh-ku bersemayam di matamu!”

Akhirnya dengan izin dari Bang Andra langsung, kurepost kembali disini sajak miliknya untuk mengucap terima kasihku kepada Bang Andra pemilik goresan sajak di ‘LangitJiwa’.